Aku merasa bertanggung jawab atas kebahagiaanku sendiri. Aku memutuskan apa yang jadi keinginanku. Waktu telah berjalan... bahkan banyak kenangan terukir dalam proses kehidupanku, dan kenangan terburukpun adalah bagiannya... kali ini aku ada di dua kesempatan yang mengharuskanku untuk memilih... antara dua hal yang selalu aku nikmati dan menjadi bagian kehidupanku. Kesedihan atau kebahagiaan?
Aku berkaca pada banyak hal yang menghinggapi kehidupanku, dimana kesedihan yang ada adalah hal yang aku ingini pada akhirnya. Dan kebahagiaan adalah hal yang aku create agar aku dapat merasakan tawa itu. Keduanya adalah usaha yang dilakukan dengan ekstra kerja keras.
Pilihanku adalah sangat sederhana. Aku ingin bahagia... melalui kesedihanku, aku ingin bahagia. melalui tawa riangku aku menginginkan itu adalah kebahagiaan sesungguhnya. Keduanya akan kubawa pada muara penuh akan tawa tulus, tawa yang aku ingini. Dan kenangan yang telah kulalui aku jadikan sebagai kenangan termanis yang pernah aku lewati bersamanya... ya aku memutuskan untuk membebaskan diriku untuk menjadi pribadi yang benar-benar bahagia.
...bahagia pada akhirnya ketika harus mengenang kenangan indah yang sudah-sudah, terima kasih telah menjadi bagian terpenting dalam kehidupanku...
(kupersembahkan bagi seseorang yang akhir-akhir ini sering bercerita denganku melalui yahoo messenger... putuskan dirimu untuk bahagia, wahai teman...)
Rindu yang terbuang...
Aku menggila, darahku merayap hingga ke ubun-ubun… memanas sempurna hingga membuatku pusing kepala. Kau penyebab kegilaan ini. Ketika menghempas fikiran tentangmu dalam keramaian, serta merta menyentuhku dalam kesunyian, akupun terjebak dalam labirinmu….
Ada gairah tak terbendung, bahkan aku rancu mengartikan bahwasannya ini cinta atau penumpukan hasrat terpendam, yang terkreasi menjadi birahi. Sosokmu saat ini adalah sosok nyata untuk memuaskan hasratku, mendesah… dalam bisikan “aku rindu kamu setengah mati”.
Otak ini terkungkung dalam otak yang terotak tanpa kendali mengingat hal yang telah berlalu… bersamamu bersama kenangan itu, terepetisi dengan sendirinya. Aku menanyakan adakah kau merasa hal yang sama pada detik ini, pada saat aku berfikir akanmu? Bahkan tangan ini tetap enggan menggapainya, terselimut ego dan tetap berdaya khayal sendiri seraya membentuk istana kerinduan seorang diri. Dalam sepi dan kesunyian… namun tidak dalam kedamaian hatimu.
Aku menggigil, membeku, dalam jiwa yang dingin… bahkan rasa inipun hanya sekedar hasrat yang terkebiri.
Betapa aku selalu yakin rasa ini juga kaurasakan… namun aku sangsi untuk apa yang kurasa kali ini, ketika kutersadar bahwa rasa cintamu sesungguhnya bukan kau persembahkan hanya untukku saja, berbagi dengan sosok lain diluar sana. Dan betapa ku menjadi biru seketika ku tahu… bahwasannya aku bukanlah sosok terpilih melainkan pelengkap dalam mahligai cintamu.
Kusadarkan diriku dalam nyata… kulempar daya khayalku seketika… berkeyakinan dalam realita.. AKU TIDAK SENDIRI… benar adanya bahwa diriku hanyalah pelengkap bagi kekalutan jiwamu.
Aku sebagai sosok yang terbelakang dimatamu, sesungguhnya adalah bagian yang begitu penting bagimu, namun sayang… kau tak menyadarinya. Apa mungkin waktu… kembali Jika suatu hari semua terlambat sudah.
(sebuah ungkapan sayang untuk jiwa hebat yang tersayang, jangan bersedih lagi... aku selalu ada untuk melengkapi kedamaian jiwamu... )
Ada gairah tak terbendung, bahkan aku rancu mengartikan bahwasannya ini cinta atau penumpukan hasrat terpendam, yang terkreasi menjadi birahi. Sosokmu saat ini adalah sosok nyata untuk memuaskan hasratku, mendesah… dalam bisikan “aku rindu kamu setengah mati”.
Otak ini terkungkung dalam otak yang terotak tanpa kendali mengingat hal yang telah berlalu… bersamamu bersama kenangan itu, terepetisi dengan sendirinya. Aku menanyakan adakah kau merasa hal yang sama pada detik ini, pada saat aku berfikir akanmu? Bahkan tangan ini tetap enggan menggapainya, terselimut ego dan tetap berdaya khayal sendiri seraya membentuk istana kerinduan seorang diri. Dalam sepi dan kesunyian… namun tidak dalam kedamaian hatimu.
Aku menggigil, membeku, dalam jiwa yang dingin… bahkan rasa inipun hanya sekedar hasrat yang terkebiri.
Betapa aku selalu yakin rasa ini juga kaurasakan… namun aku sangsi untuk apa yang kurasa kali ini, ketika kutersadar bahwa rasa cintamu sesungguhnya bukan kau persembahkan hanya untukku saja, berbagi dengan sosok lain diluar sana. Dan betapa ku menjadi biru seketika ku tahu… bahwasannya aku bukanlah sosok terpilih melainkan pelengkap dalam mahligai cintamu.
Kusadarkan diriku dalam nyata… kulempar daya khayalku seketika… berkeyakinan dalam realita.. AKU TIDAK SENDIRI… benar adanya bahwa diriku hanyalah pelengkap bagi kekalutan jiwamu.
Aku sebagai sosok yang terbelakang dimatamu, sesungguhnya adalah bagian yang begitu penting bagimu, namun sayang… kau tak menyadarinya. Apa mungkin waktu… kembali Jika suatu hari semua terlambat sudah.
(sebuah ungkapan sayang untuk jiwa hebat yang tersayang, jangan bersedih lagi... aku selalu ada untuk melengkapi kedamaian jiwamu... )
Langganan:
Postingan (Atom)